Mengamati Cara Belajar di Sekolah Lanjutan Autis

Pagi baru saja dimulai. Gerungan knalpot dari kendaraan bermotor yang berseliweran di jalan-jalan seakan merayakan tenggelamnya malam. Aku dan seorang kawanku turut berbaur di antara deretan kendaraan bermotor yang mengular. Menunggu lampu Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas  (APILL) berubah menjadi hijau. Jalan-jalan di daerah Seturan mulai sibuk seiring dengan matahari yang terus merambat naik. Saat itu hari Sabtu, 22 September 2012, aku dan seorang kawanku berada di punggung sepeda motor, menuju suatu tempat dengan sebuah misi di kepala kami.

Kami menyusuri Jalan Perumnas, berbelok ke arah sebuah jalan kecil, dengan papan nama Gang Indragiri, beberapa kali berbelok sesuai penunjuk arah, kemudian berhenti di sebuah bangunan bernomor  B 11. Di dinding depannya terdapat papan dengan tulisan:  “Sekolah Lanjutan Autis (SLA) Fredofios”. Bangunan bercat biru dengan jeruji besi di pintunya tersebut terlihat lengang. Kami disambut dan dipersilakan masuk oleh seorang laki-laki paruh baya sesaat setelah kawanku megucap salam. Kami beramah-tamah sejenak, kemudian saling menyebutkan nama. Di sepanjang koridor, beberapa siswa menatap ingin tahu ke arah kami, kemudian antusias menjulurkan tangan-tangan mungil mereka. Menyebutkan nama masing-masing, memperkenalkan diri kepadaku dan kawanku yang seorang. Kemudian laki-laki paruh baya yang telah kuketahui bernama Agung membawa kami ke ruang kepala Sekolah.

Abdu Somad, Kepala Sekolah SLA Fredofios menuturkan bahwa sekolah ini mulai beroperasi pada tahun 2002. Awalnya hanya bertempat di garasi rumah Fred Vrugteveen, seorang konsultan autis asal Belanda. Dua siswa pertama sekolah tersebut adalah Muhammad Harun Arrofiq  (Opiq) dan Aussie Novarga (Osi).  Dari ketiga nama tersebut (Fred, Opiq, Osi), terbentuklah nama “Fredofios” di bawah naungan Yayasan Autisma Nasional (YAN). Kemudian SLA Fredofios menempati bangunan yang sekarang, dan diresmikan oleh Dinas Pendidikan pada tanggal 3 April 2003. Tahun ini, SLA Fredofios sedang dalam proses akreditasi.

Kurikulum Pendidikan Khusus

Sekolah yang bernaung di bawah Yayasan Autisma Nasional (YAN) ini memiliki sembilan orang pengajar. Empat diantaranya merupakan pengajar tidak tetap yang hanya datang pada waktu-waktu tertentu saja. Sebagai sekolah khusus yang diperuntukkan bagi para penyandang autis, Fredofios menggunakan metode yang berbeda dengan sekolah biasa dalam hal mendidik siswa-siswanya. Setiap kelas maksimal terdiri dari empat siswa dan didampingi oleh seorang pengajar. Selain itu, di sekolah ini, presentase pendidikan akademik untuk siswanya hanya sekitar 20%, sisanya merupakan pelatihan life skills yang diharapkan akan mampu memberdayakan potensi yang dimiliki siswa. Karena bagi siswa penyandang autis, keterampilanlah yang diprioritaskan. Atau dengan kata lain, pelajaran akademik diterjemahkan dalam keterampilan, mengingat cara mereka memahami sesuatu berbeda dari yang lainnya.

Walau pendidikan akademik tak terlalu ditonjolkan, namun para siswa akan diikutkan UjianSekolah, dan akan mendapatkan ijazah dari Dinas Pendidikan. Namun tentu saja orientasi ujiannya berbeda dengan sekolah biasa. Bagi para penyandang autis, terdapat beberapa aspek kemampuan yang harus dikuasai sebelum mendapatkan ijazah. Antara lain kemampuan menolong diri, kemampuan kognitif, dan juga diharuskan memiliki minimal satu life skill.

Metode pendidikan bagi para penyandang autis di sekolah ini tak melulu harus duduk manis di ruang kelas. Seperti kali ini, dua orang siswa senior, Opiq dan Sendri sedang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler renang di sebuah kolam renang di daerah Seturan. Mereka didampingi oleh dua orang pengajar. Disela-sela renang, Opiq berbincang dengan guru pendampingnya, Agung Tri Yulianto. Opiq dapat menceritakan pengalamannya bertahun yang lampau, lengkap dengan detail waktu dan orang-orang yang terlibat. Kini, Opiq telah menginjak usia ke 25-nya.

***

Sementara itu di sebuah ruang kelas SLA Fredofios, gradasi warna terlihat di sana-sini. Mengerumuni kertas gambar Yossa, Francien, Aga dan Wynne. Dibimbing oleh Abdu Somad, kepala sekolah  yang juga merangkap sebagai pengajar. Suara crayon dan pensil warna yang menggesek kertas berpilin dengan senandung kecil yang terlantun dari mulut mungil mereka. Membentuk harmoni di kelas menggambar. Di ruangan lain, Faris dan Farrel sibuk berkutat dengan hafalan doa sehari-hari yang baru saja diajarkan oleh ibu guru mereka.

Sekitar pukul 10.00 para pengajar mengakhiri pelajaran. Saatnya istirahat. Opiq dan Sendri telah kembali dari kolam renang. Para siswa yang membawa makanan dari rumah mulai membuka kotak bekalnya dan mulai makan. Faris, salah seorang siswa yang tak membawa bekal, sibuk mencomoti makanan dari kotak bekal teman-temannya kemudian memakannya dengan lahap.

Setelah istirahat, para siswa dibagi menjadi dua kelompok. Kali ini mereka akan outing ke kantor pos dan mini market. Faris, Farrel dan Opiq mendapat tugas ke kantor pos untuk mengirim surat yang telah disiapkan oleh pengajar.Bertempat di Kantor Pos Babarsari , mereka ditugaskan untuk menuliskan alamat penerima surat dan menyerahkan surat ke petugas kantor pos. Selain itu mereka juga dibimbing oleh pengajar bagaimana cara mengoperasikan komputer ding dongberlayar sentuh untuk mengakses  informasi seputar Kota Jogja.

Sedangkan Sendri, Yossa, Francien, Wynne dan Aga telah menggenggam secarik kertas bertuliskan nama barang yang harus mereka beli di mini market. Dengan berjalan kaki, para siswa didampingi oleh pengajar menuju sebuah mini market yang tak jauh dari sekolah. Di mini market, mereka dibiarkan memilih barang sesuai dengan tulisan yang tertera di kertas dalam genggaman masing-masing. Setelah mendapatkan barang yang dibutuhkan, para siswa mengantri di depan kasir. Pengajar juga membimbing mereka bagaimana cara melakukan transaksi dengan kasir.

Dalam seminggu, outing bisa dilaksanakan beberapa kali di berbagai tempat umum. Abdu Somad menambahkan, kegiatan ini merupakan pembelajaran bagi anak-anak untuk belajar berinteraksi dengan orang lain, menyosialisasikan siswa dengan aturan-aturan di tempat umum, serta sebagai salah satu cara untuk mengedukasi masyarakat.

Butuh Perhatian Khusus

Menurut Abdu Somad, sejauh ini tidak ada penolakan dari masyarakat sekitar. Mereka menerima dan memaklumi keberadaan siswa penyandang autis di sekolah ini. Perhatian pemerintah terhadap sekolah ini cukup baik sejak lima tahun terakhir. Baik dari segi pengajar, pembangunan sekolah secara fisik, maupun pengadaan fasilitas. Mengenai pendanaan, Abdu Somad mengungkapkan bahwa sumber dana SLA Fredofios berasal dari siswa. Pihak dinas pendidikan sesekali juga turut membantu biaya operasional yang berasal dari dana Biaya Operasional Sekolah (BOS).

Saat ini, pihak SLA Fredofios sedang berusaha menyadarkan para orang tua yang anaknya merupakan penyandang autis.“Orang tua harus mau menerima kenyataan bahwa anaknya penyandang autis, dan memerlukan pendidikan serta sekolah khusus. Selain itu, keluarga besar juga harus diberi pengertian agar keluarga bisa menerima dan terbiasa dengan saudaranya yang autis. Sehingga jika suatu saat anak penyandang autis tinggal bersama keluarga besarnya, dia bisa merasa nyaman,” imbuh Abdu Somad.

Regulasi tentang anak berkebutuhan khusus dan penyandang cacat lainnya sebenarnya telah tercantum di dalam UU No. 4 Tahun 1997. Pada Bab III, terdapat pembahasan tentang hak dan kewajiban. Dijelaskan pada pasal 6 ayat 6 bahwasanya setiap penyandang cacat memiliki hak yang sama untuk menumbuhkembangkan bakat, kemampuan, dan kehidupan sosialnya, terutama bagi penyandang cacat anak dalam lingkungan keluarga dan masyarakat.

 

Adanya ketentuan tersebut bertujuan agar para penyandang cacat anak memperoleh hak untuk hidup dan menjalani sepenuhnya kehidupan kanak-kanak, dalam suatu keadaan yang memungkinkan dirinya meningkatkan martabat dan kepercayaan diri, serta mampu berperan aktif dalam masyarakat. Selain itu, mereka juga berhak untuk mendapatkan perlakuan dan pelayanan secara wajar baik dalam lingkungan keluarga maupun masyarakat, serta memiliki hak untuk sedini mungkin mendapatkan akses pendidikan, latihan, keterampilan, perawatan kesehatan, rehabilitasi, dan rekreasi sehingga mampu mandiri dan menyatu dalam masyarakat.

Artikel ini saya buat bersama dengan Adam Ghifari Nuskara. Pernah dipublikasikan di www.lpmjournal.com dengan judul yang sama.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s