Rinjani, Secuil Surga yang Jatuh ke Bumi

 

Membaca ulang catatan perjalanan merengkuh sang Dewi Anjani.

gunung-rinjani-lombokjpg
Ketika bertemu pandang sedekat itu dengan Rinjani, tiba-tiba terbesit ragu dalam hati, “Sanggupkah aku?”

Sewaktu berberes file di laptop, saya menemukan catatan perjalanan ketika mendaki Rinjani tahun 2014 silam. Dengan dilengkapi beberapa foto, catatan itu pernah mejeng di “Pekan Journal”, pameran karya tahunan yang diselenggarakan oleh lembaga pers mahasiswa tempat saya bernaung selama kuliah, yaitu LPM Journal.

Ini karya foto kedua saya yang tampil di Pekan Journal. Tahun sebelumnya, saya bersama seorang teman membuat foto esai tentang pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus (Karya itu berakhir dengan pertanyaan mengerikan dari salah satu pengisi diskusi: “Ini foto esai, EFTAD-nya mana?” Hiks 😥 )

Karya kedua ini juga nggak luput dari komentar pengisi diskusi. Katanya, foto-fotonya terlalu hampa, soalnya nggak ada manusia dan aktivitas di dalamnya. Selain itu, kata-kata dalam teksnya terlalu mendayu-dayu. Ini pasti gara-gara saya kebanyakan baca novel cinta-cintaan! Hahaha!

Daripada teronggok berdebu di folder, lebih baik saya tayangkan tulisan lawas tentang Rinjani di blog ini. Sekalian buat obat rindu karena udah lama nggak naik gunung. Foto-foto lainnya tentang perjalanan ke Rinjani dan Lombok bisa dilihat di Photo Gallery.

Secuil Surga yang Jatuh ke Bumi

“Napitutana berijiaya nainamu napadidikau dangu angudidimu jiabatuna,
koru mangganganya dumma ana umbukumu.”

“Alam adalah ibumu yang melahirkan kebaikan dan saudaramu. Oleh sebab itu, rawat dan jagalah mereka, karena mereka akan memberi makan yang cukup untukmu”. Sebait syair dari Pulau Sumba ini sudah seharusnya dipahami dan dihayati dalam tata kehidupan manusia. Alam juga mengajarkan berjuta kearifan kepada kita. Hanya saja kita terkadang terlalu naif untuk mengerti. Alam tidak bisu. Ia berbicara pada kita dengan banyak cara dan bahasa. Ia melantunkan lagu-lagu penawar kesedihan melalui angin. Jika suatu waktu kau merasa sedih, maka dengarlah nyanyian angin. Alam tidak bisu, hanya kita yang terlalu sering abai terhadapnya.

Satu hari di bulan September, kesempatan datang menghampiriku. Ia membiarkan aku berjalan lebih jauh dari biasanya, bersemangat lebih dari biasanya, bercengkerama dengan alam—sang ibunda kehidupan—lebih intim dari biasanya. Bersama tiga orang kawan, sebuah perjalanan dimulai. Memang benar, perjalanan menghadiahkan banyak cerita.

sembalun-lawang
Pemandangan di Desa Sembalun Lawang. Desa yang terletak di kaki Gunung Rinjani dan dikelilingi bukit-bukit ini berada di ketinggian sekitar 1.156 mdpl.

Gagah, megah dan menawan. Tiga kata tersebut cukup mewakili aku yang terpana menatap Rinjani dari sebuah desa yang terletak di kakinya. Rinjani merupakan kebanggaan terbesar bagi masyarakat Lombok, Nusa Tenggara Barat. Dengan puncak setinggi 3726 meter di atas permukaan laut (mdpl), Rinjani menjadi Gunung tertinggi  ketiga di Indonesia setelah Puncak Carstensz Pegunungan Jaya Wijaya di Papua (4884 mdpl), dan Gunung Kerinci di Jambi (3805 mdpl). Ini bukan kali pertama aku mendaki gunung, tapi ketika aku bertemu pandang sedekat itu dengan Rinjani, tiba-tiba terbesit ragu dalam hati, “Sanggupkah aku?”

Rinjani memang istimewa. Padang rumput yang terhampar begitu luas terbelah oleh jalan setapak yang meliuk-liuk. Lembah berbatu, ceruk-ceruk sungai yang mengering, jalanan berbukit menjadi santapan lezat kedua mataku selama perjalanan. Angin mendesau, kupejamkan mata dan kubiarkan angin menyentuh kulitku, menghapus sisa-sisa peluh dan bernyanyi untukku. Sesekali terdengar ia mengajak daun-daun pohon cemara yang serupa jarum untuk berdendang bersama. Gesekan daun cemara dengan angin terdengar bak gemericik air yang mengalir deras di udara. Aku membalikkan tubuhku, membuka kedua mata perlahan-lahan. Tepat di hadapanku, sang surya lari di senja, di bawah sana awan pun berganti jingga, membentuk koloni seperti kain wol putih, menggoda siapa saja yang melihatnya untuk berguling-guling di atasnya dan membenamkan tubuh di dalamnya.

senja-di-pelawangan
Lautan awan, langit yang merona jingga, membuat senja di Pelawangan Sembalun tak pernah biasa-biasa saja.

Keistimewaan Rinjani menjadi sempurna dengan adanya Danau Segara Anak. Danau Segara Anak merupakan kaldera yang terbentuk akibat letusan Gunung Rinjani. Di sisi timur kaldera yang berkedalaman 230 meter ini terdapat Gunung Barujari (2.296-2.376 mdpl), sebuah kerucut muda yang muncul akibat aktivitas vulkanik Gunung Rinjani.

Selalu butuh perjuangan ekstra untuk mendapatkan hal istimewa. Pun begitu untuk mencapai dan menikmati pesona Danau Segara Anak. Jalur penuh bebatuan yang terjal, medan yang menguras tenaga, pembatas besi yang roboh, jurang-jurang di kanan kiri berlomba memamerkan kengeriannya, asap-asap sisa kebakaran hutan, kabut tebal yang membuat jarak pandang terbatas, dingin yang menggigit, ditambah sebuah sunyi—yang mencekam, bukan menenteramkan—adalah mata uang untuk membayar sebuah keindahan yang tak biasa. Danau Segara Anak. Airnya yang hijau kebiruan, riak-riak kecil menari-nari di permukaannya serta pantulan cahaya matahari yang membuat permukaan danau berkilau menghadirkan sore yang tak biasa di hidupku. Sungguh, saat itu aku terperangah. Tuhan, inikah secuil surga yang jatuh ke bumi?

segara-anak

Selain keindahan yang menggetarkan jiwa, di sepanjang perjalanan, aku juga melihat bukti nyata atas abainya manusia terhadap alam yang telah menghidupinya. Satu hal yang membuatku begitu terluka hanyalah betapa banyak sampah berserakan di secuil surga ini. Bungkus kemasan plastik, botol-botol, kaleng, hingga helaian tisu dengan noda cokelat yang mengering tersebar di sekitar tempat-tempat camp, di balik semak, bahkan di jalanan untuk lalu lalang orang. Kupikir, itu bukanlah cara membalas budi terhadap alam atas apa yang telah ia berikan kepada kita.

Sungguh, alam bukanlah benda mati. Ia hidup dan menghidupi. Jangan hanya menjadi penikmat alam, tanpa mencintainya. “Ketika pohon terakhir telah ditebang, sungai terakhir telah mengering, ikan terakhir telah ditangkap, barulah manusia akan menyadari bahwa ia tak dapat memakan uang”.

***

Dulu saya belum jago menulis dan memotret. Pun kini. Membaca ulang tulisan sendiri dua tahun silam, rasanya seperti pergi kembali ke masa itu dengan mesin waktu. Mau tak mau, saya mengamini ucapan penulis legendaris Pramudya Ananta Tur, yang dijadikan jargon oleh LPM Journal selama bertahun-tahun: “Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s