“Indonesia, Papua New Guinea, one family”

Pada medio 2016, saya mendapat penugasan ke Boven Digoel, Papua, bersama tim Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Penjelajahan kami ke ujung timur Nusantara ini bertujuan untuk melengkapi data sekolah dan cagar budaya Kemdikbud.

(Simak kisah perjalanan saya selengkapnya di Tembang Orang-orang yang Terbuang.)

Perjalanan menuju Boven Digoel dari Merauke ditempuh melalui jalur darat selama sekitar delapan jam, menggunakan mobil berpenggerak empat roda. Kami membelah rimba dan rawa di Taman Nasional Wasur. Kemudian, menyusuriย  kawasan perbatasan dan terus menuju arah utara.

tugu-perbatasan-sota
Tugu perbatasan Indonesia-Papua Nugini di Sota, Merauke.

Di kawasan pos perbatasanย  Indonesia-Papua Nugini di Sota, saya bersua dengan tiga warga negara Papua Nugini yang melintasi perbatasan menuju Indonesia dengan bersepeda. Mereka membawa pakaian khas daratan Papua berupa rok rumbai-rumbai yang terbuat dari daun sagu kering.

Seorang anggota TNI Angkatan Darat, Yunus yang tengah duduk-duduk di bawah rimbun pepohonan taman perbatasan, menghentikan mereka. Yunus menanyakan harga rok tersebut dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris sepotong-sepotong.

rumah-semut
Di sepanjang perjalanan melalui Taman Nasional Wasur maupun di Sota, banyak ditemukan rumah semut yang terbuat dari tanah. Beberapa rumah semut diberi pagar kawat agar tak dirusak oleh tangan-tangan jahil.

“Thirty,” ujar pedagang dari negeri tetangga itu sembari mengangkat 1 rok.

“Lima puluh, dapat dua, ya,” tawar Yunus.

“I don’t understand Malay and Bahasa, but we use the Rupiah,” sahut sang penjual.

Dengan bantuan bahasa isyarat, akhirnya didapatlah harga yang disepakati. Yunus mengulurkan selembar uang pecahan Rp 50.000,- untuk harga dua rok.

Setelah saling mengucapkan terima kasih, keduanya berjabat tangan. “Indonesia, Papua New Guinea, one family,” ucapnya disertai seulas senyum tulus.

Kalimat terakhir lelaki itu tampaknya cukup “menyentil” perasaan semua orang yang ada di situ. Kami bertukar peluk dan jabat tangan, sebelum mereka melanjutkan perjalanan, mengayuh kembali sepeda mereka di bawah matahari yang sedang terik-teriknya, dengan bertelanjang kaki.

Save

Save

Save

Save

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s