Langitnya Kok Cerah?

langit-cerah
Langit Jakarta, 18 Januari 2017, 15:24.

Suatu siang menjelang sore, di tengah jeda bekerja, saya menyempatkan diri bermalas-malasan di atas hammock yang terpasang dalam ruangan kantor. Saya berayun pelan, sembari menatap langit di balik jendela kaca yang agak kotor. Langit sedang cerah, berwarna biru dengan sedikit awan yang melapisinya tipis-tipis.

“Ih! Langitnya kok cerah, tumben amat!” pikir saya.

Saya buru-buru motret langit dan secuil lansekap kota pakai kamera ponsel. Rasa-rasanya, sudah lama banget saya nggak lihat langit yang berwarna biru cerah seperti saat itu. Kalau lagi cerah begini, bawaannya jadi pengin berenang dan main di pantai. Tapi karena masih jam kerja, ya sudah anggap aja hammock ini dipasang di antara pohon kelapa, di pinggir pantai pasir putih, dengan ombak yang deburannya manggil-manggil manja gitu. Aaaarrgghhhh! 😥

Kadang saya nggak habis pikir, entah kenapa, langit di kota besar rasanya nggak seistimewa langit di daerah pedesaan atau kota kecil. Padahal kan, kita memandang langit yang sama, ya? *sambil nyanyi lagunya RAN. Halaah! 😆 *

mendung
Foto ini diambil empat hari lebih awal ketimbang foto sebelumnya. Mendung, suram. 😦

Apa gara-gara polusi?

Bisa jadi sih. Tapi apa beneran cuma gara-gara polusi? Jangan-jangan itu cuma perasaan saya doang. Mungkin sebenarnya langit Jakarta sering cerah, cuma gara-gara saya selalu telat bangun, berangkat ke kantornya buru-buru, di kantor fokus lihat layar komputer melulu (nggak, saya kerjanya nggak rajin-rajin amat kok, banyakan juga streaming YouTube-nya 😐 ), jadi nggak sempat untuk sekadar ndongak dan lihat langit cerah atau menikmati denyut kehidupan ibukota?

Hmm… bisa jadi.. bisa jadi…

Besok bangun pagi ah, biar sempat lihat langit biru di perjalanan menuju kantor!

 

 

 

 

 

 

 

P.S.: Kalimat terakhir cuma bercanda, nggak usah dianggap serius.


Tulisan ini bagian dari #WritingChallenge yang saya sepakati bersama Mima. “Langit” adalah tema minggu pertama, yang seharusnya, sudah diunggah sejak minggu lalu. Tapi apa daya, dua minggu kemarin, kemalasan menyabotase pikiran dan jari saya. Mima sudah upload tepat waktu, saya mangkir. Sekarang, Mima sudah menentukan tema minggu kedua–mungkin malah sudah mau upload tulisannya, saya baru mau posting tulisan ini. Semoga Mima memaklumi. Hahahaha 😆

Baca tulisan Mima di sini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s